Pergeseran Nilai Nikah Muda

Menikah muda telah menjadi sebuah trend tersendiri. "Enak kan nanti biar anakku jadi kayak adikku soalnya mamanya masih muda." Ingin ikutan? Tunggu dulu, pikirkan dan perhitungkan dengan matang. Saya bukannya sok pintar dan menggurui, tapi menurut pengamatan saya kebanyakan wanita muda yang menikah di antara usia 19-21 tahun merupakan mereka-mereka yang masih baru saja lulus sekolah SMA. Secara pemikiran anak yang lulus SMA pastinya belum matang, bukan berarti saya menghakimi semuanya seperti itu tapi sebagian besar dari mereka seperti itu. Sangat jarang menemukan wanita yang menikah di rentang usia 19-21 tahun sudah dewasa dan tahu benar apa yang mereka mau dalam kehidupan serta paham akan makna pernikahan.

Judgement bahwa hal tsb hanya terjadi di desa adalah salah, karena sekarang banyak sekali gadis-gadis ABG di kota metropolitan yang melakukan hal yang sama. Menikah di usia muda. Bahkan ada yang hamil di luar nikah dan kemudian menikah dengan teman SMA mereka. Bagaimana di desa? Sama saja, dan malah lebih parah. Saya awalnya hidup di kota metropolis dan sekarang saya tinggal dan menetap di sebuah Kabupaten yang bisa dibilang Ibukota Provinsi-nya saja tidak sebesar kota tempat saya lahir dan tinggal dulu. Disini banyak hal yang saya temukan sangat berbeda dengan apa yang saya alami dan temui di kota. Mulai budaya, keadaan sosial, dan berbagai aspek lainnya. Saya pernah menemukan seorang pemuda desa yang berusia 19 tahun menikah dengan seorang gadis yang berusia 15 tahun. Banyak ibu-ibu muda yang usianya dibawah saya sudah menggendong anak ke pasar. Mereka seharusnya masih menuntut ilmu di bangku sekolah, bukan di pasar menggendong anak kecil.

Menurut saya, fenomena menikah muda ini yang dulu identik dengan kurangnya pendidikan dan kampungan sekarang lebih disebabkan oleh bebasnya akses informasi. Internet merupakan suatu invasi budaya yang terbesar yang terjadi saat ini. Kita belum siap dengan teknologi ini yang kemudian mengakibatkan penurunan moral di kalangan anak muda. Anak muda yang selalu ingin tahu, ingin mencoba hal baru. takut dianggap ketinggalan jaman jika tidak mengikuti trend yang diciptakan oleh orang asing yang berbeda budaya dengan bangsanya, dan ketiadaan rasa bersalah yang merupakan hasil dari pengertian yang salah terhadap nasehat "Anak muda kalo salah itu salah wajar". Memang wajar melakukan kesalahan saat muda, tapi bukan berarti ini menjadi perintah untuk melakukan sesuatu tanpa pemikiran yang panjang dan matang. Alangkah bijaknya jika  orang tua bisa lebih mengarahkan anak-anaknya utamanya anak yang menginjak masa remaja, karena disinilah fase terpenting yang akan menentukan masa depannya. Pemerintah juga bisa membantu dengan cara merealisasikan keinginan mulianya untuk menutup akses ke semua situs porno dan situs-situs lain yang dikhawatirkan membentuk pola pikir yang tidak baik bagi generasi muda.

Saya menyayangkan kurangnya pendidikan moral dalam kurikulum pendidikan kita. Semua orang berlomba untuk menjadi terbaik dalam pendidikan akademis terutama di bidang ilmu pengetahuan, namun pendidikan moral kita tertinggal dan kurang mendapat perhatian. Cara yang paling mudah untuk merusak suatu bangsa adalah merusak generasi mudanya. Apakah kita rela generasi muda kita kehilangan semangat dan mimpinya untuk membangun bangsa dan negaranya kemudian menjadi orang tua saat dia sendiri belum merasa mantap dengan pijakan hidupnya? Tentunya tidak.

Maka dari itu tanamkan agama dan nilai moral yang kuat dalam diri generasi muda agar mereka tidak mudah goyah oleh trend dan pengaruh buruk lainnya. Kenali kesukaan mereka dan dukunglah kegiatan positif mereka. Luangkan waktu untuk mendengarkan apa yang menjadi masalah mereka dan berikanlah solusi. Dan kita sebagai generasi muda harus membangun sebuah pribadi yang kuat dan positif demi mencapai impian dan cita-cita kita. Jangan korbankan diri kita dan masa depan kita dengan sebuah keputusan yang terburu dan tak berdasar kuat.

We are young, we are strong and tough. With our hands, we will change the world. ^^