Ayah, Aku Bukan Malin Kundang

Assalamuallaikum. Kali ini saya mau cerita yg agak serius dikit, hehe. Gak papa ya. Langsung aja saya mulai ceritanya. Semoga memberikan hikmah. ^^

Pas kita masih kuliah, pasti kita merasa kayak bisa menguasai dunia. Apapun mimpi dan keinginan kita seolah dekat dari tangan dan mudah dicapai. Tak bisa dipungkiri, anak muda dengan idealismenya merupakan kekuatan yang hebat. Sayapun demikian. Semasa kuliah saya bukan tipe yg suka terlibat dalam organisasi dan menghabiskan waktu di luar. Saya tipe dibalik layar, saya suka terlibat dalam sebuah acara tapi tidak suka dengan kegiatan yg rutin yg wajib diikuti saat masuk ke dalam sebuah organisasi. Tapi bukannya saya tidak pernah ikut berorganisasi. Saya pernah ikut, tapi bukan termasuk anggota yg aktif selalu ikut rapat rutin. Saya ngikut rapat kalo mau ada acara doank, hehe. Jangan ditiru ya. Awalnya sih saya emang suka ngikut kemana aja, ada acara apa aja, dan ngapain aja.  Mulai acara futsal, belajar kelompok, cangkruk di angkringan, sampe wisata. Tapi pas masuk semester tua, saya mulai kurangin aktivitas keluar. Banyak tugas jadi alasan utama kalo pas diajakin keluar, walaupun sebenernya saya emang lagi males aja. Kekeke.

Di bangku kuliah, saya benar-benar melihat dunia yg sangat jauh berbeda dari semasa saya sekolah dulu. Dunia yg penuh ambisi dan impian. Dunia yg indah. Sangat menyenangkan. Saya merasa bisa menggenggam dunia. Punya teman pena dari berbagai belahan dunia membuat wawasan saya semakin terbuka. Seiring dengan itu pula, prinsip-prinsip dan nilai kehidupan saya mengalami pergeseran. Bagi saya, bisa keliling dunia dan mempelajari berbagai budaya serta tinggal di berbagai situasi terlihat amat sangat menantang dan menyenangkan. Kita hidup sekali, rugi kan kalo cuman disini-sini doank? Itu juga yg saya pikirkan. Saya mulai menenpuh berbagai cara untuk bisa keluar negeri dengan gratis. Maklum, saya berasal bukan dari keluarga yg mampu secara finansial untuk membiayai keinginan saya menjelajah dunia. Dengan keinginan yg menggebu saya mulai mencari info beasiswa kesana kemari, hingga akhirnya saya lulus kuliah.
Setelah lulus kuliah, pikiran tercepat saya adalah mencari kerja. Di tempat kerja pertama, saya menjadi tenaga freelance. Masuk 3 kali seminggu, gaji juga belum sepenuhnya mencukupi untuk membiayai kehidupan saya sendiri. Waktu itu saya masih disokong keluarga untuk bisa hidup di perantauan. Kalo dipikir-pikir saat ini, kerjaan saya pas itu sih gampang dan gak terlalu butuh banyak pikiran. Tapi, dulu saya berpikir saya tidak betah dan tidak suka tipe pekerjaannya. Pikiran saya pun tidak fokus. Kemudian, orang tua saya bersikeras saya harus pulang kerumah. Segera setelah kontrak kerja saya yg sekejap mata itu berakhir saya pulang kerumah, meninggalkan kota kelahiran dan kota dimana saya tumbuh dan besar untuk pulang ke rumah saya yg sejak 4 tahun yg lalu ditinggali orang tua saya.

Rumah saya yg sekarang memiliki suasana  yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan rumah saya yg lama, sunyi tanpa banyak hingar bingar kota dan jauh dari suasana hedonis. Terletak di sebuah Kabupaten kecil yg bahkan orang tidak tahu namanya walaupun Kabupaten ini mereka lewati setiap kali mudik. Kabupaten kecil ini terletak di jalur pantai utara atau yg lebih dikenal dengan nama pantura. Gedung tinggi digantikan oleh pohon-pohonan dan bukit, suara tetangga yg bising dengan segala macam omongan ngalur ngidul digantikan oleh suara kendaraan yg wara-wiri di depan rumah. Awalnya terasa aneh, namun lama-kelamaan saya menemukan kedamaian. Lama kelamaan saya menyadari bahwa rumah bukanlah tentang bangunan, namun perasaan dan kehangatan yg kita rasakan saat berada di dalamnya.
Seminggu setelah membereskan barang-barang yg saya bawa dari tempat kos lama, saya sibuk melamar pekerjaan kesana-kemari. Ada panggilan dari Bank BUMN, namun saya tidak lolos sampai seleksi akhir. Kemudian di hari Rabu terakhir bulan Oktober 2013 saya iseng melamar lewat salah satu situs pencari pekerjaan di sebuah pabrik yg nama depannya sama dengan nama Kabupaten tempat saya tinggal. Kamis pagi saya mendapatkan telpon dan melakukan tes serta interview, saya lolos. Senin pagi saya dihubungi dan hari Rabu saya mulai bekerja.

Setelah saya mulai bekerja, keinginan saya untuk keliling dunia belum pudar. Saya tetap berhubungan dengan teman pena saya. Dia yg memupuk semangat saya untuk kembali mencoba mendaftar beasiswa tahun ini. Saya tetap berusaha mencari informasi lewat internet. Namun ada satu hal yg menggalaukan hati saya. Bukan tentang biaya atau yg lainnya. Namun tentang keberadaan orang tua saya. Semakin saya dirumah, saya melihat kedua orang tua saya yg semakin menua. Saya tidak tahu berapa waktu yg saya lewatkan tanpa melihat wajah mereka yg semakin hari semakin keriput, kaki-kaki mereka yg semakin lama semakin lemah berpijak, sorot mata mereka yg menunjukkan kelelahan, helaian rambut yg mulai memutih, dan tanda bukti lain yg menyiratkan betapa lama dan kerasnya hidup yang selama ini mereka jalani. Semakin lama saya bekerja, semakin lama saya hidup dengan orang tua saya kembali setelah berpisah 4 tahun lamanya, saya semakin mempertanyakan tujuan hidup saya kembali. Saya selama ini mengira, bahwa jika saya berhasil di bidang pekerjaan orang tua saya akan senang sekali dan bangga sekali kepada saya. Tapi apakah hal itu yg mereka inginkan dari saya? Apakah mereka rela melihat saya pergi sekali lagi, untuk memenuhi keinginan dan cita-cita saya? Apakah tujuan hidup saya yg menginginkan mereka bahagia itu telah salah saya artikan?

Semakin dalam pertanyaan saya, hingga kemudian suatu hari seseorang yg tidak lain dan tidak bukan adalah atasan saya berkata “Jika kita memiliki sebuah gelas, lalu kita ingin mengisinya dengan air, batu, kerikil, dan pasir. Apa yg harus kita lakukan agar kita bisa mengisinya dengan keempat benda tersebut tanpa membuatnya menumpahkan sesuatu pun?” Saya tidak bisa mengingat siapa yg menjawab pada saat briefing pagi itu tapi saya kira atasan saya sendiri yg menjawabnya, “Masukkan dulu batunya,kerikil, lalu pasir baru kemudian masukkan airnya.” Lalu atasan saya berkata,”Begitu pula dengan prioritas kita dalam hidup. Letakkan dulu apa yg paling berat menurut kalian, baru kemudian letakkan yg lain hingga yg paling ringan. Jika keluarga yg paling berat, maka letakkan keluarga menjadi prioritas yg utama baru kemudian karir, pendidikan, dll. Tapi jika karir yg menjadi prioritas, maka letakkan itu menjadi yg utama.”

Setelah mendapatkan nasehat seperti itu, bukan kemudian saya serta merta memahaminya. Butuh proses yg panjang hingga saya dapat memahami maksud dari perkataan beliau. Waktu itu adalah ketika Ayah saya yg sangat saya cintai hampir jatuh saat Hari Raya Idul Fitri. Setelah peristiwa tersebut, kemampuan motorik Ayah saya berkurang. Tangan kanannya bergerak sendiri tanpa beliau gerakkan, beliau mengalami penyumbatan aliran darah karena kadar gula darahnya yang tinggi. Ayah saya adalah seorang pekerja yg membutuhkan kemampuan fisik untuk melakoni pekerjaannya. Dengan kondisinya yg seperti sekarang, kami anak-anaknya tidak bisa membiarkan Ayah kembali bekerja. Saat itulah kehidupan sesungguhnya dimulai, saat itulah kemudian saya mulai mengerti. Hidup memang hanya sekali, tapi hidup kita bukanlah miliki kita sendiri. Mimpi dan keinginan egois saya harus saya singkirkan. Batu saya adalah orang tua saya, itulah yang akan saya utamakan dan yang akan saya perjuangkan sampai akhir.


Saya hanya ingin berbagi cerita, semoga cerita saya ini bisa mengilhami anak-anak muda lain. Apa yang paling berat dalam hidupmu, letakkanlah itu dulu jika tidak ingin gelasmu tumpah. Wassalam. ^^

Comments